✕
Subscribe Kami Di Youtube Dapatkan 10% Diskon
Tanya Jawab Di Live Talkshow Youtube Senin Dan Kamis
Dan Dapatkan Konsultasi Gratis Semua Keluhan Anda

Lutut Sering Ngilu Saat Usia Bertambah? Bisa Jadi Ada Risiko Pengapuran Sendi

Oktober 8, 2026

Naik tangga mulai terasa lebih berat? Lutut ngilu ketika berdiri dari kursi atau terasa kaku setelah duduk cukup lama? Keluhan seperti ini memang lebih sering muncul seiring bertambahnya usia. Namun, apakah itu berarti lutut pasti mengalami pengapuran?

Belum tentu. Usia memang termasuk salah satu faktor risiko pengapuran sendi yang penting, tetapi bukan satu-satunya. Kondisi lutut dipengaruhi oleh perjalanan panjang: berat badan, cedera lama, pekerjaan, kekuatan otot, struktur sendi, riwayat keluarga, hingga aktivitas yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Istilah “pengapuran sendi” sendiri biasanya digunakan masyarakat untuk menyebut osteoarthritis. Kondisi ini bukan sekadar “kapur” yang menumpuk di lutut. Osteoarthritis merupakan perubahan bertahap yang dapat melibatkan tulang rawan, tulang di bawahnya, ligamen, jaringan sinovial, dan bagian lain dari sendi.

Jadi, lutut yang mulai ngilu saat usia bertambah sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai konsekuensi normal penuaan. Ada baiknya kita mengenali faktor risikonya, melihat pola gejala, dan mengetahui kapan lutut perlu diperiksa.

Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Pengapuran Sendi?

Osteoarthritis bukan tumpukan kapur di lutut

Kata “pengapuran” sering memberi kesan seolah ada kapur yang mengendap di dalam sendi. Gambaran ini kurang tepat.

Osteoarthritis adalah kondisi ketika jaringan dalam sendi mengalami perubahan secara bertahap. Tulang rawan dapat mengalami kerusakan, struktur tulang di sekitar sendi ikut berubah, dan pada sebagian orang dapat muncul osteofit atau pertumbuhan jaringan tulang baru.

Osteofit bukan kerak kapur seperti yang terbentuk pada teko atau pipa air. Karena itu, tidak tepat membayangkan pengapuran lutut sebagai endapan yang bisa “dilarutkan” begitu saja.

Pemahaman ini penting agar kita tidak mudah percaya pada klaim yang menjanjikan pengapuran dapat dihancurkan atau dibersihkan hanya dengan satu produk.

Osteoarthritis melibatkan lebih dari tulang rawan

Tulang rawan membantu permukaan sendi bergerak dengan lebih mulus. Namun osteoarthritis tidak hanya berkaitan dengan lapisan tersebut.

Tulang di bawah tulang rawan dapat ikut berubah. Jaringan sinovial, ligamen, tendon, hingga meniskus pada lutut juga dapat terlibat.

Karena itu, osteoarthritis lebih tepat dipahami sebagai penyakit yang memengaruhi keseluruhan sendi.

Inilah alasan faktor risiko pengapuran sendi juga tidak bisa dilihat dari satu hal saja. Banyak faktor bekerja bersama dan pengaruhnya dapat berbeda pada setiap orang.

Lutut menjadi salah satu sendi yang sering terdampak

Lutut bekerja keras hampir sepanjang hari. Kita menggunakannya ketika berdiri, berjalan, duduk, naik tangga, turun tangga, maupun jongkok.

Sebagai sendi penopang berat tubuh, lutut menerima tuntutan mekanis berulang selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya osteoarthritis lutut cukup sering dibicarakan.

Meski demikian, osteoarthritis juga dapat mengenai tangan, pinggul, tulang belakang, dan sendi lain.

Jadi, lutut bukan satu-satunya lokasi yang dapat mengalami perubahan osteoarthritis.

Mengapa Risiko Pengapuran Sendi Meningkat Seiring Usia?

Jaringan sendi berubah seiring bertambahnya usia

Tubuh terus mengalami perubahan seiring waktu. Kemampuan jaringan untuk mempertahankan dan memperbaiki dirinya dapat ikut berubah ketika usia bertambah.

Tulang rawan dapat menjadi lebih rentan terhadap perubahan struktur. Kualitas otot dan jaringan yang membantu menopang sendi juga dapat menurun pada sebagian orang.

Di saat yang sama, lutut telah menerima beban selama puluhan tahun. Semua aktivitas, pekerjaan, cedera lama, dan kondisi fisik sepanjang hidup ikut membentuk kondisi sendi saat ini.

Inilah sebabnya usia menjadi salah satu faktor risiko pengapuran sendi. Namun, meningkatnya risiko tidak berarti osteoarthritis pasti terjadi.

Bertambah tua tidak berarti pasti mengalami osteoarthritis

Ada orang berusia lanjut yang tetap aktif dengan fungsi sendi yang cukup baik. Ada pula orang yang lebih muda tetapi sudah memiliki masalah lutut akibat cedera atau faktor lain.

Artinya, usia kalender saja tidak menentukan kondisi persendian.

Genetik, berat badan, riwayat cedera, jenis pekerjaan, kekuatan otot, dan struktur sendi ikut memengaruhi risiko osteoarthritis.

Jadi, osteoarthritis tidak tepat disebut sebagai sesuatu yang pasti terjadi hanya karena seseorang semakin tua.

Riwayat hidup sendi ikut menentukan kondisinya

Bayangkan lutut seperti mesin yang digunakan dalam banyak aktivitas selama puluhan tahun. Bukan umur mesin saja yang menentukan kondisinya, tetapi juga bagaimana mesin tersebut digunakan, apakah pernah mengalami benturan, dan bagaimana perawatannya.

Cedera lama bisa mengubah cara lutut mendistribusikan beban. Pekerjaan yang sering membuat seseorang berjongkok atau berlutut juga dapat memberikan tuntutan mekanis berulang.

Olahraga dengan risiko cedera tertentu juga dapat berpengaruh, terutama bila cedera terjadi berulang dan fungsi sendi tidak pulih optimal.

Karena itu, memahami faktor risiko pengapuran sendi berarti melihat seluruh perjalanan sendi, bukan umur semata.

Berat Badan Berlebih Menambah Risiko pada Lutut

Lutut menerima beban setiap kali tubuh bergerak

Lutut membantu menopang tubuh saat kita berdiri dan berjalan. Beban pada sendi bisa meningkat ketika naik atau turun tangga.

Berat badan tambahan berarti lutut harus menanggung tuntutan mekanis yang lebih besar dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Jika paparan ini berlangsung lama, risiko osteoarthritis dapat meningkat pada orang yang memang rentan.

Meski begitu, berat badan bukan satu-satunya faktor risiko pengapuran sendi. Dua orang dengan berat badan serupa belum tentu memiliki kondisi lutut yang sama.

Jaringan lemak juga aktif secara biologis

Hubungan berat badan dengan osteoarthritis bukan hanya persoalan tekanan mekanis.

Jaringan lemak merupakan jaringan aktif yang menghasilkan berbagai mediator biologis. Sebagian mediator tersebut berkaitan dengan proses inflamasi dalam tubuh.

Hal ini membantu menjelaskan mengapa hubungan antara berat badan dan osteoarthritis lebih kompleks daripada sekadar “lutut membawa tubuh yang lebih berat”.

Tidak perlu masuk ke istilah yang rumit. Pesan sederhananya, berat badan dapat memengaruhi kesehatan sendi melalui lebih dari satu jalur.

Berat badan termasuk faktor yang masih dapat dikelola

Kita tidak bisa mengubah usia maupun riwayat keluarga, tetapi berat badan masih termasuk faktor yang dapat dikelola secara bertahap.

Aktivitas fisik yang sesuai dan pola makan sehat dapat membantu menjaga berat tubuh sekaligus mempertahankan fungsi.

Fokusnya bukan penampilan. Tujuannya adalah membantu tubuh bergerak dengan lebih nyaman dan mengurangi beban yang tidak perlu pada sendi penopang.

Bila dibutuhkan, tenaga kesehatan dapat membantu menyusun langkah yang sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.

Cedera Lama Bisa Meningkatkan Risiko Osteoarthritis di Kemudian Hari

Cedera ligamen dan meniskus dapat berdampak jangka panjang

Pernah mengalami cedera lutut bertahun-tahun lalu lalu merasa sudah sembuh? Riwayat seperti ini tetap penting ketika membahas faktor risiko pengapuran sendi.

Cedera ligamen seperti ACL dapat meningkatkan risiko osteoarthritis lutut di kemudian hari. Masalah pada meniskus juga dapat mengubah distribusi beban di dalam lutut.

Fraktur di sekitar permukaan sendi pun dapat meninggalkan perubahan mekanis yang memengaruhi fungsi sendi setelahnya.

Namun, tidak semua cedera lutut pasti berakhir dengan osteoarthritis. Cedera hanya merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kerentanan.

Riwayat operasi sendi tetap perlu dicatat

Bila pernah menjalani operasi lutut, informasi tersebut penting disampaikan saat berkonsultasi mengenai nyeri yang muncul saat ini.

Operasi biasanya dilakukan karena cedera atau masalah tertentu pada sendi. Kondisi yang mendasari operasi tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan kesehatan lutut.

Perubahan biomekanik setelah cedera atau tindakan tertentu juga bisa relevan terhadap risiko.

Namun operasi tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab osteoarthritis pada semua orang.

Pemulihan setelah cedera tetap penting

Pemulihan kekuatan dan fungsi membantu lutut bekerja lebih baik setelah cedera.

Kembali melakukan aktivitas berat terlalu cepat dapat meningkatkan risiko cedera berulang. Dalam kondisi tertentu, fisioterapi diperlukan untuk membantu mengembalikan fungsi.

Pencegahan cedera berikutnya ikut berperan dalam menjaga kesehatan lutut dalam jangka panjang.

Artinya, riwayat cedera memang tidak bisa dihapus, tetapi risiko lanjutan masih dapat dikelola.

Pekerjaan dan Gerakan Berulang Bisa Membebani Sendi

Jongkok dan menekuk lutut berulang layak diperhatikan

Beberapa pekerjaan menuntut seseorang sering berjongkok, berlutut, menekuk lutut dalam, atau membawa beban sambil berada pada posisi tertentu.

Jika dilakukan berulang selama bertahun-tahun, tuntutan mekanis tersebut dapat ikut meningkatkan risiko pengapuran lutut.

Namun faktor pekerjaan tetap harus dilihat bersama kondisi lain seperti usia, cedera lama, berat badan, kekuatan otot, serta struktur sendi.

Jadi, tidak semua pekerjaan fisik otomatis menyebabkan osteoarthritis.

Olahraga bukan musuh sendi

Mendengar bahwa aktivitas berulang bisa berpengaruh pada sendi sering membuat orang takut berolahraga. Padahal terlalu sedikit bergerak juga dapat membuat otot melemah.

Aktivitas fisik membantu mempertahankan kekuatan otot, fungsi sendi, dan mobilitas.

Risiko lebih banyak berkaitan dengan cedera, teknik yang kurang tepat, beban berlebihan, atau aktivitas ekstrem yang dilakukan tanpa pemulihan cukup.

Jadi, olahraga tidak otomatis menjadi faktor risiko pengapuran sendi. Aktivitas yang sesuai kemampuan justru penting untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Otot yang lemah dapat mengurangi dukungan terhadap sendi

Lutut tidak bekerja sendirian. Otot di sekitarnya membantu menopang dan menstabilkan sendi.

Salah satu kelompok penting adalah otot paha depan atau quadriceps.

Bila kekuatan otot menurun, fungsi lutut dapat menjadi kurang optimal dan aktivitas terasa lebih berat.

Karena itu, menjaga kekuatan otot juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan fungsi lutut, meskipun kelemahan otot bukan satu-satunya penyebab osteoarthritis.

Faktor Genetik, Jenis Kelamin, dan Struktur Sendi Juga Berperan

Riwayat keluarga dapat meningkatkan kerentanan

Osteoarthritis dapat lebih sering ditemukan dalam keluarga tertentu.

Faktor genetik dapat memengaruhi sifat jaringan dan berbagai aspek lain yang berhubungan dengan kesehatan persendian.

Namun mempunyai orang tua atau saudara dengan osteoarthritis tidak berarti Anda pasti akan mengalami kondisi yang sama.

Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko pengapuran sendi, bukan kepastian.

Perempuan lebih sering mengalami osteoarthritis setelah usia tertentu

Data menunjukkan osteoarthritis lebih sering ditemukan pada perempuan dibanding laki-laki, terutama setelah usia sekitar 50 tahun.

Alasan perbedaan ini belum sepenuhnya dipahami. Faktor biologis, hormonal, serta biomekanik masih terus dipelajari.

Jenis kelamin tetap hanya satu faktor di antara banyak faktor lainnya.

Jadi, tidak tepat menyimpulkan bahwa menopause sendiri menjadi penyebab tunggal osteoarthritis.

Struktur sendi dapat memengaruhi distribusi beban

Susunan tulang dan posisi sendi menentukan bagaimana beban dibagi ketika seseorang berdiri dan bergerak.

Jika distribusi beban kurang seimbang, sebagian area lutut dapat menerima tekanan lebih besar.

Kelainan struktur tertentu juga dapat meningkatkan risiko pada sebagian orang.

Namun kondisi seperti ini tidak sebaiknya dinilai sendiri hanya melalui foto atau melihat posisi kaki di cermin. Pemeriksaan diperlukan bila terdapat perubahan struktur yang nyata atau fungsi mulai terganggu.

Kenali Gejala Awal Osteoarthritis Lutut

Nyeri sering lebih terasa saat lutut digunakan

Salah satu pola yang sering ditemukan pada osteoarthritis adalah nyeri yang terasa ketika sendi digunakan.

Berjalan jauh, naik turun tangga, atau berdiri dari kursi dapat membuat lutut terasa kurang nyaman.

Pada tahap tertentu, aktivitas dengan beban lebih tinggi dapat semakin memperjelas gejala. Bila kondisi berkembang, sebagian orang bahkan dapat merasakan nyeri ketika sedang beristirahat.

Meski demikian, pola nyeri lutut tersebut belum cukup untuk memastikan diagnosis.

Lutut bisa terasa kaku setelah lama duduk

Pernah berdiri setelah duduk lama lalu lutut terasa seperti sulit “diajak jalan” pada beberapa langkah pertama?

Kekakuan setelah tidak bergerak dapat ditemukan pada osteoarthritis.

Sebagian orang juga merasakan kekakuan pada pagi hari dalam waktu relatif singkat. Setelah bergerak beberapa saat, lutut bisa terasa lebih longgar.

Namun kekakuan pagi yang berlangsung sangat lama dapat memiliki penyebab lain dan perlu dinilai. Tidak semua sendi kaku merupakan osteoarthritis.

Rentang gerak dan stabilitas dapat ikut berubah

Osteoarthritis dapat memengaruhi fungsi lutut secara bertahap.

Lutut mungkin terasa lebih sulit ditekuk atau diluruskan penuh. Sebagian orang juga merasa lutut kurang stabil atau seperti akan goyah.

Bunyi gesekan atau krepitasi dapat muncul ketika bergerak.

Bila aktivitas sederhana mulai terganggu, perubahan tersebut sebaiknya dicatat dan dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Ngilu Lutut Tidak Selalu Berarti Pengapuran

Cedera jaringan lunak dapat memberikan keluhan serupa

Nyeri di sekitar lutut dapat berasal dari tendon, ligamen, meniskus, maupun otot.

Cedera baru maupun masalah akibat aktivitas berulang dapat menimbulkan rasa sakit yang kadang dianggap sebagai pengapuran.

Riwayat trauma membantu tenaga kesehatan mencari kemungkinan penyebab.

Karena itu, lutut yang ngilu tidak boleh langsung dianggap osteoarthritis hanya karena usia sudah bertambah.

Gout dan rheumatoid arthritis memiliki mekanisme berbeda

Gout berkaitan dengan kristal urat di dalam sendi. Rheumatoid arthritis merupakan penyakit inflamasi autoimun.

Osteoarthritis mempunyai mekanisme yang berbeda dari keduanya.

Bengkak, rasa panas, pola sendi yang terkena, serta lama kekakuan dapat memberi petunjuk, tetapi diagnosis tetap membutuhkan evaluasi.

Jadi, jangan menggunakan satu gejala untuk memastikan jenis penyakit sendi yang dialami.

Bunyi lutut saja tidak cukup untuk menyimpulkan osteoarthritis

Bunyi “krek” atau “klik” pada lutut sering membuat orang khawatir.

Padahal lutut dapat berbunyi tanpa adanya penyakit serius.

Bunyi menjadi lebih perlu diperhatikan bila disertai nyeri, kekakuan, pembengkakan, atau fungsi yang menurun.

Jadi, bunyi lutut semata tidak cukup untuk menentukan adanya faktor risiko pengapuran sendi maupun memastikan osteoarthritis.

Faktor Mana yang Bisa Diubah dan Mana yang Tidak?

Usia dan genetik tidak bisa diubah

Usia terus bertambah dan riwayat keluarga tidak dapat diubah.

Jenis kelamin biologis juga termasuk faktor yang tidak dapat dimodifikasi.

Namun mengetahui hal tersebut bukan berarti kita harus pasrah.

Fokus dapat dialihkan pada bagian dari faktor risiko pengapuran sendi yang masih bisa dikelola dalam kehidupan sehari-hari.

Berat badan, kekuatan otot, dan cedera berulang lebih mungkin dimodifikasi

Berat tubuh dapat dikelola secara bertahap bila memang berlebih. Otot dapat diperkuat melalui aktivitas yang sesuai kemampuan.

Teknik gerakan juga dapat diperbaiki untuk mengurangi risiko cedera berulang.

Bila pekerjaan memberi tekanan besar pada lutut, pengaturan beban dan posisi kerja dapat dipertimbangkan sejauh memungkinkan.

Langkah seperti ini tidak menjamin osteoarthritis tidak akan terjadi, tetapi membantu menjaga fungsi dan kesehatan sendi.

Mengetahui risiko lebih awal membantu menjaga fungsi

Faktor risiko bisa ada jauh sebelum gejala terasa.

Mengetahui bahwa Anda mempunyai riwayat cedera, berat badan berlebih, atau pekerjaan yang memberi tekanan berulang pada lutut dapat membuat perubahan fungsi lebih mudah dikenali.

Intervensi gaya hidup juga lebih mudah dilakukan sebelum keterbatasan gerak menjadi berat.

Tujuan utamanya bukan menjanjikan pencegahan seratus persen, melainkan mempertahankan mobilitas selama mungkin.

Kapan Nyeri Lutut Perlu Diperiksakan?

Nyeri atau kaku yang menetap perlu dinilai

Nyeri sesekali setelah aktivitas berat tentu berbeda dengan keluhan yang muncul terus-menerus selama beberapa minggu.

Bila lutut semakin sering sakit atau kekakuan mulai mengganggu kegiatan harian, jangan hanya menganggapnya sebagai bagian dari bertambahnya usia.

Catat kapan nyeri muncul, berapa lama berlangsung, dan aktivitas apa yang sering memicunya.

Informasi tersebut dapat membantu saat pemeriksaan.

Berjalan semakin sulit atau lutut sering goyah perlu diperhatikan

Penurunan fungsi menjadi salah satu tanda penting untuk diperhatikan.

Bila berjalan semakin sulit, lutut sering terasa tidak stabil, atau rentang gerak semakin terbatas, evaluasi medis layak dipertimbangkan.

Jangan menunggu sampai aktivitas sehari-hari benar-benar terganggu.

Namun rasa goyah juga tidak selalu berarti osteoarthritis. Penyebabnya tetap perlu diperiksa.

Bengkak mendadak, panas, merah, atau demam membutuhkan perhatian lebih cepat

Osteoarthritis umumnya berkembang secara bertahap.

Bila sendi tiba-tiba membengkak besar, terasa panas, memerah, atau nyeri sangat berat, kondisi tersebut perlu dinilai lebih cepat.

Demam yang muncul bersama nyeri sendi juga membutuhkan perhatian medis.

Jangan langsung menyimpulkan semua keluhan akut sebagai pengapuran, terutama bila terjadi setelah cedera.

Bagaimana Pengapuran Sendi Biasanya Diperiksa?

Riwayat gejala dan pemeriksaan fisik menjadi dasar

Pemeriksaan tidak dimulai hanya dengan foto rontgen.

Tenaga kesehatan biasanya menanyakan lokasi nyeri, pola keluhan, riwayat cedera, dan aktivitas yang sering dilakukan.

Rentang gerak, stabilitas lutut, pembengkakan, serta area yang terasa nyeri saat ditekan juga dapat dinilai.

Riwayat keluarga dan berbagai faktor risiko pengapuran sendi ikut membantu memahami gambaran secara keseluruhan.

Rontgen dapat membantu melihat perubahan tertentu

Foto rontgen dapat memperlihatkan perubahan tulang tertentu pada osteoarthritis.

Penyempitan ruang sendi dan osteofit dapat terlihat pada kondisi tertentu.

Namun perubahan tahap awal belum tentu terlihat jelas, dan hasil foto tidak selalu sejalan dengan seberapa berat nyeri yang dirasakan seseorang.

Karena itu, hasil imaging tetap perlu dibaca bersama gejala dan pemeriksaan fisik.

Tes tambahan kadang diperlukan untuk menyingkirkan penyebab lain

Tidak semua orang membutuhkan pemeriksaan tambahan.

Pada kondisi tertentu, pemeriksaan darah dapat digunakan untuk membantu mengevaluasi penyebab lain dari nyeri sendi.

Cairan sendi dapat diperiksa pada situasi tertentu, sementara MRI digunakan bila memang ada kebutuhan khusus.

Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan keluhan dan temuan klinis, bukan dilakukan semuanya secara rutin.

Produk Herbal Tetap Perlu Ditempatkan sebagai Pelengkap

SamproHit digunakan dalam konteks membantu kenyamanan persendian

SamproHit HerbaKencana merupakan produk herbal dalam sediaan kapsul yang mengandung temulawak, sambiloto, kunyit, dan sereh.

Berdasarkan informasi produk, SamproHit ditempatkan untuk membantu menjaga kesehatan persendian dan membantu mengurangi rasa tidak nyaman atau nyeri sendi.

Osteoarthritis juga dicantumkan sebagai salah satu konteks penggunaannya.

Namun SamproHit tetap ditempatkan sebagai pelengkap pemeliharaan kesehatan persendian, bukan sebagai cara untuk menghilangkan faktor risiko pengapuran sendi.

Berkurangnya nyeri tidak berarti tulang rawan sudah pulih

Rasa nyeri dan kondisi struktur sendi merupakan dua hal berbeda.

Seseorang dapat merasa lebih nyaman tanpa berarti tulang rawannya kembali seperti sebelum mengalami osteoarthritis.

Karena itu, berkurangnya nyeri tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa kerusakan struktur sendi sudah pulih.

Penilaian osteoarthritis tetap melihat gejala, fungsi, pemeriksaan fisik, dan temuan lain bila dibutuhkan.

Herbal tidak digunakan untuk melarutkan pengapuran

Osteofit merupakan pertumbuhan jaringan tulang, bukan gumpalan kapur biasa.

Karena itu, klaim bahwa suatu herbal dapat “melarutkan pengapuran” tidak menggambarkan proses osteoarthritis secara akurat.

Produk herbal juga tidak boleh dianggap dapat menumbuhkan kembali tulang rawan yang sudah mengalami perubahan struktural.

Aktivitas fisik yang sesuai, penguatan otot, pengelolaan berat tubuh, serta perawatan medis tetap memiliki peran dalam menjaga fungsi sendi.

Usia Memang Menambah Risiko, tetapi Bukan Satu-satunya Penentu

Lutut yang mulai ngilu seiring usia tidak otomatis berarti mengalami osteoarthritis.

Faktor risiko pengapuran sendi merupakan gabungan banyak hal. Usia menjadi salah satu yang penting, tetapi berat badan, cedera lama, pekerjaan dengan tekanan berulang, kekuatan otot, struktur sendi, jenis kelamin, dan riwayat keluarga juga ikut berperan.

Sebagian faktor memang tidak dapat diubah. Usia terus bertambah dan genetik sudah kita bawa sejak lahir. Namun ada bagian lain yang masih bisa dikelola, seperti menjaga berat tubuh, mempertahankan kekuatan otot, mencegah cedera berulang, dan tetap aktif sesuai kemampuan.

Perhatikan juga pola keluhan. Nyeri saat menggunakan lutut, rasa kaku setelah lama duduk, berkurangnya rentang gerak, atau lutut yang semakin tidak stabil layak mendapat perhatian bila terjadi berulang.

Bunyi lutut saja tidak cukup untuk memastikan pengapuran. Begitu pula usia tidak cukup untuk menentukan diagnosis.

Bila nyeri menetap, aktivitas mulai terganggu, lutut sering goyah, atau muncul pembengkakan berat, panas, kemerahan, maupun demam, pemeriksaan menjadi langkah yang lebih tepat daripada menganggap semua keluhan sebagai bagian normal dari bertambahnya usia.

TAG:

✕
Hubungi Kami